Jembatan Terunik didunia ada di Indonesia !!!



Siapa yang datang di objek wisata jambatan aka (jembatan akar) pasti akan berdecak kagum, siapa tidak kagum dua pohon akar pohon yang akarnya dihubungkan antar sungai menjadi sebuah jembatan yang bisa dilalui 10 orang. Inilah dia objek wisata andalan Kabupaten Pesisir Selatan yang merupakan salah satu jembatan yang terunik di dunia.jembatan yang kuat dan menjadi penghubung dua daerah antara Jorong (Dusun) Puluik-Puluik dan Lubuak Silau, Desa Lubuak Silau, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.



Jarak lokasi dari Kota Padang sekitar 82 Kilometer atau dua jam perjalanan dengan kendaraan roda dua dan mobil pribadi, jalan ini juga bisa menghubungi Muko-muko, Provinsi Bengkulu. Ketika sampai di lokasi anda harus turun sejauh 50 meter dari jalan raya.

Gemuruh aliran sungai yang jernih akan menambah keindahan alam di kawasan jembatan akar apalagi batang (sungai) bayang yang memisahkan dua kampung itu airnya sangat jernih. Konon katanya jika mandi di bawah jembatan akar tersebut akan cepat dapat rezeki dan jodoh, apakah itu sudah terbukti? Belum bisa dijawab.



Karena kawasan itu dihanggap keramat, tak salah jika menjelang puasa banyak yang berdatangan ke kawasan ini untuk balimau (menyucikan diri menjelang puasa) agar amal yang dilakukan selama bulan puasa dapat diterima sang kuasa.

Dari informasi yang berhasil dirangkum salah seorang tokoh masyarakat sekaligus ketua pemuda Pulik-puluik, Herman Datuak Rajo Bandaro, jembatan tersebut dibuat karena seorang ulama yang bernama Pakih Sokan kasihan melihat murid-murid mengajinya dari Pulik-puluik sering tidak datang karena aliran batang bayang kerap meluap.



"Dulu memang ada jembatan yang dibuat dari bambu namun sering rusak akibat derunya batang bayang, muncul ide dari guru Pakih Pohan untuk membuat jembatan dari akar," ujar Herman.

Pada tahun 1916 Pakih Pohan menanam dua batang jawi-jawi (sejenis pohon beringin yang berdaun lebar), pohon jawi-jawi tersebut ditanam di dua lokasi satu di daerah Pulik-puluik dan satu lagi di daerah Lubuak Silau yang dipisahkan dengan batang bayang. Lalu akarnya yang bergantungan dijalin di batang bambu yang dijadikan jembatan sebagai tulang jembatan akar. Setelah 3 tahun lamanya akar dua pohon jawi-jawi tersebut bertaut namun belum bisa dilalui.

Kemudian Pakih Pohan mengadakan acara mandabiah kambing (potong kambing) dan mandarai aka (memberikan darah pada akar yang bertaut tersebut). "Ini sebagai tanda syukuran bahwa akar jawi-jawi yang dihubungkan sudah bertaut, sebagai tanda akan terjadi pertautan kembali," tambah Herman.



Untuk menjadikan sebuah jembatan yang bisa dilalui membutuhkan waktu selama 20 tahun maka jembatan tersebut bisa ditempuh warga Puluik-puluik yang hendak mau ke Lubuak Silau.

Sampai sekarang jembatan tersebut berukuran panjang 30 meter dan lebar 1 meter dengan ketinggian dari permukaan batang bayang sekitar 10 meter dan saat ini umur jembatan tersebut sudah 93 tahun dan masih bisa dilalui warga dari daerah Pulik-puluik sebanyak 25 kepala keluarga begitu juga warga yang hendak kedaerah Pulik-puluik.

Di bawah jembatan akar tersebut ada ikan larangan yang tidak boleh dipancing dan diambil, ikan larangan itu berada di lubuk posisi di bawah jembatan akar itu.

Jika kita buang makanan ikan-ikan tersebut keluar mengerubungi makanan yang ditebar. Lokasi wisata juga dijadikan tempat mandi-mandi karena airnya segar dan memiliki batu-batuan serta sering dijadikan lokasi arung jeram bagi para pencinta alam.

Agar jembatan yang unik ini lebih terawat Pemkab Pesisir Selatan mengontrak areal tersebut pada Herman Datuak Rajo Bandaro, satu tahun Pemkab Pesisir Selatan mengontrak lokasi sebagai objek wisata.

"Pemkab Pesisir Selatan memang mengontrak daerah ini selama 5 tahun dengan nilai Rp15 juta, dan semua kebersihan serta perawatan diserahkan sepenuhnya pada warga setempat, tiket masuk senilai Rp1.500, untuk Rp1.000 disetor kepada Pemkab termasuk honor pembersihnya, sementara Rp500 untuk sumbangan ke Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) di daerah sini," terangnya.

Selain itu untuk lebih awet dan kuat warga setempat menjalin akar yang bergantungan ke bawah, namun itu akar yang sudah dewasa, kalau akar itu masih putih belum bisa dijalin nanti akan mati, jadi tunggu jika warnanya sudah kuning dan ukuran akar itu sebesar ibu jari dewasa baru dijalin. Setelah dijalin kemudian akar yang baru dijalin itu ditutupi sama batang pisang sebagai pendingin, karena makanan akar jawi-jawi tersebut dari batang pisang.

Sekali sebulan warga memberikan batang pisang sebagai pupuknya agar lebih kuat dan terawat.

Jika dilihat dari jumlah pengunjung kalau pada hari libur dan Minggu jumlah pengujung mencapai 200 sampai 500 orang namun jika pada hari Lebaran jumlah pengujung mencapai 1.000 orang lebih dari berbagai daerah baik yang ada di Sumatera Barat maupun dari luar. Agar jembatan yang dilalui para pengunjung tidak putus ada dua warga yang menjaga jembatan tersebut untuk mengatur orang yang melalui. Hingga kini jembatan itu masih tegar berdiri dari rangkaian akar pohon jawi-jawi.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?p=104640173#post104640173

10 Burung Tercepat di Dunia

1. Spine-tailed swift, atau biasa disebut White-throated Needletail (scientific name: Hirundapus caudacutus), kecepatan maksimum = 171 km/jam.


2. Frigate bird, kecepatan maksimum = 153 km/jam.


3. Spur-winged goose, kecepatan maksimum = 142 km/jam.


4. Red-breasted merganser, kecepatan maksimum = 129 km/jam.


5. White-rumped swift, kecepatan maksimum = 124 km/jam.


6. Canvasback duck, kecepatan maksimum = 116 km/jam.


7. Eider duck, kecepatan maksimum = 113 km/jam.


8. Teal, kecepatan maksimum = 109 km/jam.


9. Mallard, kecepatan maksimum = 105 km/jam.


10. Pintail, kecepatan maksimum = 105 km/jam.


Sumber: kaskus.us

Wanita pejuang 45 !!!

dalam rangkan menyambut hari kemerdekaan RI

Laswi






Jo Paramita


Jo Paramita Abdurachman, tokoh putri pejuang kemanusiaan yang konsekwen. Namanya tak dapat dipisahkan dari pembangunan Palang Mera Indonesia pada masa awal-awal revolusi.

Dewi Dja



Emmy Saelan

Emmy Saelan, pejuang putri Sulawesi, gugur pada bulan Januari 1947 dalam perjuangan di Kasi-kasi dekat kota Makassar. Sejak muda Emmy Saelan memang tak mau bekerja sama Belanda. Ia ikut juga dalam pemogokan "Stella Marris" sebagai protes terhadap penangkapan Dr. Sam Ratulangi.
Pernah ia menggunakan kesempatannya sebagai perawat melepaskan pejuang-pejuang (tawanan Belanda) yang datang untuk dirawat luka-lukanya.
Pada bulan Juli 1946 ia menggabungkan diri dengan pasukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dibawah pimpinan Ranggong Daeng Romo yang meneruskan perjuangan gerilya dihutan-hutan.
Pada waktu satuan-satuan Belanda menyerang Kasi-kasi, Emmy Saelan meletuskan granat ketengah-tengah Belanda yang akan menangkapkan. Delapan tentara Belanda tewas, dan 1 pejuang Indonesia: Emmy Saelan sendiri.

Herawati Diah


Ktut Tantri


S.K. Trimurti


Ny. Sunarjo Mangunpuspito


Sumber: kaskus.us

10 Ikan Tercepat di Dunia

1. Sailfish, max. recorded speed = 110 kph



2. Marlin, max. recorded speed = 80 kph


3. Wahoo, max. recorded speed = 78


4. Tunny, max. recorded speed = 74


5. Bluefish tuna, max. recorded speed = 70


6. Great blue shark, max. recorded speed = 69


7. Bonefish, max. recorded speed = 64


8. Swordfish, max. recorded speed = 64


9. Four-winged flying fish, max. recorded speed = 56


10. Tarpon, max. recorded speed = 56


Sumber: kaskus.us

Makhluk Hidup 100 Juta Tahun di Dalam Ambar


Fosil penyu yang ditemukan terakhir menunjukkan, penyu zaman sekarang tidak ada perubahan apapun dengan penyu 100 juta tahun yang lampau. (INTERNET)

Fosil penyu yang ditemukan terakhir menunjukkan, penyu zaman sekarang tidak ada perubahan apapun dengan penyu 100 juta tahun yang lampau. (INTERNET)


Bukan hanya ilmuwan saja, orang awam seperti kita pun, juga berharap mengetahui dengan pasti dan bukannya perkiraan saja bahwa 5.000, 500 ribu, 100 juta, 500 juta, bahkan 2 miliar tahun yang lalu, apa yang telah terjadi dengan bumi, makhluk hidup kala itu adakah perbedaannya dengan sekarang?

Maret 2005, ilmuwan Australia mengumumkan telah menemukan sejumlah fosil penyu kuno yang pernah hidup pada 110 juta tahun yang lampau. Fosil-fosil tersebut ditemukan di timur laut Negara Bagian Queensland, Australia.


Cole, ahli biologi makhluk hidup zaman kuno mengatakan, “Fosil-fosil tersebut kelihatannya tidak ada perbedaan yang terlalu besar dengan penyu zaman sekarang. Penyu sepertinya sejak awal adalah hasil karya sang Pencipta, selain itu mereka juga selalu mempertahankan kondisi seperti itu.”


Di dalam kurun waktu yang begitu panjang, pada dasarnya nyaris tidak terjadi perubahan apapun pada penyu.


Fosil kupu-kupu berumur 100 juta tahun, ditemukan di Provinsi Gansu, Tiongkok. (INTERNET)

Fosil kupu-kupu berumur 100 juta tahun, ditemukan di Provinsi Gansu, Tiongkok. (INTERNET)


Belakangan ini, museum sejarah nasional Paris, Perancis beserta ilmuwan dari pusat penelitian ilmiah negara dari Strasbourg mengumumkan sebuah penelitian bersama terbaru. Disebutkan untuk kali pertama sebuah mikro-organisme kelautan yang utuh berupa semacam hewan liar minimal berusia 100 juta tahun yang dibalut oleh ambar.


Penelitian menunjukkan, penemuan tanpa disengaja di daerah istimewa Perancis Selatan, bisa dilacak hingga minimal 20 juta tahun yang lampau. Pada masa rumput laut bersel satu yang disebut Bacillariophyta muncul di bumi.


Boleh dibilang, di dalam hasil penelitian ilmiah itu sudah dipastikan pada 20 juta tahun yang silam eksis makhluk hidup mikroba laut semacam ini, yang sekarang ditemukan bahkan 100 juta tahun yang lalu sudah eksis, padahal juga masih jenis makhluk semacam itu.


80 juta tahun lalu, rumput laut bersel satu kenapa tidak berkembang menjadi amphibi? Bahkan tidak sampai berkembang ke makhluk bersel kompleks? Ini betul-betul telah mengingkari segenap penelitian ilmiah di dalam text book.


Pengarang yang mewartakan penelitian ini yakni Saint Martin, merangkap ilmuwan museum sejarah nasional Paris menunjukkan, penemuan ini bersamaan juga menantang teori parsial dari evolusi organisme tersebut dan membuktikan penelitian ilmu molekular genetika.


Anggota penelitian di dalam pernyataan itu menyatakan, “Penemuan ini akan memperdalam pemahaman kita tentang jenis biota laut yang telah lenyap tersebut, berbarengan dengan itu menyediakan materi yang sangat berharga tentang situasi kelautan pada Periode Kapur atau Cretaceous di wilayah barat Perancis.”


Periode Kapur adalah antara masa 145 juta hingga 65 juta tahun yang silam. Dewasa ini, di dalam penemuan baru tersebut masih berupa satu misteri yang belum terjawab, “Biota laut kenapa bisa terbungkus di dalam ambar yang terbentuk oleh tetesan getah pohon?”

Laba-laba terkurung di dalam ambar (resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) 136 juta tahun yang silam. (INTERNET)

Laba-laba terkurung di dalam ambar (resin pohon yang menjadi fosil dan dihargai karena warna serta kecantikannya) 136 juta tahun yang silam. (INTERNET)


Secara jujur dikatakan, ilmuwan zaman sekarang juga terheran-heran, mereka hanya memperkirakan: penggambaran yang paling mungkin ialah, hutan yang menghasilkan ambar sangat dekat dengan tepi pantai, organisme model kecil yang terkandung makhluk mengapung primitif, barangkali telah diantar ke tengah daratan oleh air bah yang terbentuk oleh angin kencang ataupun angin puyuh.


Sebetulnya benarkah demikian, tidak begitu penting, yang terpenting ialah berita seperti itu telah menguak sebuah informasi yang sangat peka. Yakni sebuah jenis makhluk hidup telah melalui beberapa puluh juta tahun, bahkan ratusan juta tahun pun tidak mengalami perubahan, adalah karena ia dan jenis makhluk lainnya pada dasarnya tidak memiliki hubungan intern dan eksternal. Mereka termasuk kerajaan yang berbeda, mereka memiliki raja dan majikannya sendiri.


Jika benar begitu halnya, tidak saja telah menjungkir-balikkan teori evolusi, selain itu masih terdapat sebuah pertanyaan yang membuat orang tak hentinya mengejar dan tak hentinya berdebar:


Siapa yang menciptakan kehidupan ini? Mengapa harus menciptakan kehidupan tersebut? Manusia berasal dari mana? Mengapa manusia mau datang ke bumi? Selama berabad-abad lamanya sedang menunggu apa?… Apakah sedang menanti kedatangan tuan mereka? (Epochtimes/whs)ERABARU.OR.ID

Blog Archive

Bagaimanakah pendapat Anda tentang Blog saya?

Terima kasih kepada teman teman dan rekan rekan