PONIMIN DIUSULKAN JADI JURU KUNCI MERAPI YANG BARU

PONIMIN DIUSULKAN JADI JURU KUNCI MERAPI YANG BARU

-

Ponimin, kandidat pengganti Mbah Maridjan mengatakan, apa yang dikeluarkan oleh gunung Merapi saat ini belum apa-apa. Menurutnya, puncak muntahan wedhus gembel akan terjadi pada 5-6 hari ke depan. “Tunggu sampai 5-6 hari ke depan,” kata Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010). (Sumber: Detiknews).

-

SLEMAN, KOMPAS.com Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, mulai menjajaki sosok yang bisa menggantikan almarhum Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi.

-

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Kamis (28 Okober 2010), menemui Ponimin dan meminta agar salah satu tokoh masyarakat di Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, ini bersedia menggantikan Mbah Maridjan yang meninggal dunia terkena awan panas letusan Gunung Merapi.

-

Ponimin yang juga terluka akibat awan panas Gunung Merapi tersebut ditemui GKR Hemas di rumah kerabatnya di Dusun Ngenthak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

-

Dalam kesempatan tersebut, GKR Hemas juga sempat menyampaikan permintaan agar Ponimin bersedia menjadi juru kunci Gunung Merapi. “Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata GKR Hemas.

-

Sebagai informasi, Ponimin yang selama ini tinggal di sisi selatan kawasan wisata Lava Tour Kaliadem, Kepuharjo, tersebut selama ini bekerja sebagai Kepala Urusan Keuangan Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, itu tidak langsung menyanggupi permintaan GKR Hemas.

-

Kula dereng saged matur sakpunika (saya belum bisa menjawab saat ini),” kata Ponimin.

-

Mendapat jawaban tersebut, GKR Hemas menyatakan tidak masalah dan hal itu akan dibicarakan lebih lanjut.

-

Yo wis, kuwi dirembug mengko (ya sudah, nanti dibicarakan lain waktu),” kata GKR Hemas.

GKR Hemas mengunjungi Ponimin hampir selama satu jam dan ingin mendengar langsung kisah Ponimin dan keluarganya yang berhasil selamat dari amukan awan panas saat Merapi meletus, Selasa (26/10/2010) sore.

-

Ponimin yang oleh warga sekitar juga sering dimintai tolong mengenai masalah spiritual tersebut bersama istri dan anak-anaknya selamat dari terjangan awan panas Merapi.

-

Ponimin yang mengalami luka bakar di kedua kaki tersebut sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, hingga Selasa malam. Namun, keesokan harinya ia bersama keluarga memilih mengungsi di rumah dokter Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, hingga saat ini.

-

Di depan GKR Hemas, Ponimin mengaku mendapat informasi secara gaib tentang letusan Merapi.

-

Menurut Ponimin, makhluk gaib itu bahkan memberi tahu bahwa awan panas akan menerjang rumah Mbah Maridjan. Ponimin juga mengatakan, Merapi masih akan meletus lagi !

-

Yo wis, nek ana apa-apa, matur wae ke Keraton yo (ya sudah, kalau ada apa-apa, segera lapor ke Keraton),“ kata GKR Hemas yang dijawab Ponimin dengan anggukan kepala. Ponimin juga abdi dalem dengan gelar Surakso Ponihardja, pangkat paling rendah di jajaran abdi dalem Keraton Yogyakarta.

-

Ponimin pada 2006 menyatakan mundur sebagai abdi dalem karena kecewa dengan Keraton dan berseberangan pandangan dengan Mbah Maridjan.

-

Ponimin merasa kecewa terhadap Mbah Maridjan yang memutuskan bersedia dikontrak sebagai bintang iklan perusahaan jamu terkenal. (Sumber: Kompas.com).

-

Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas

-

-

PONIMIN SELALU DIINGATKAN OLEH MAKHLUK GAIB !

-

Sumber Foto: TRIBUNNEWS/FEBBY MAHENDRA PUTRA

Ponimin, tokoh masyarakat Kaliadem, Sleman, hanya mengalami luka bakar di kaki saat disambar awan panas Gunung Merapi, Selasa (26/10/2010) lalu.

-

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Nama Ponimin tiba-tiba kondang. Ia dan keluarganya selamat dari muntahan awan panas alias wedhus gembel yang menghajar Dusun Kinahrejo. Letaknya tak begitu jauh dengan rumah Mbah Maridjan yang ditemukan tewas dihajar wedhus gembel.
-

Tak hanya itu, 2 hari setelah peristiwa itu saat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, istri Sultan Hamengkubuwono X menengoknya di rumah pengungsiannya di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang, ia diminta untuk menjaga Gunung Merapi.
-
“Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata Hemas saat itu. Ponimin tak langsung menyanggupinya.
-

Tiga kali Merapi meletus, ia selalu selamat dari amuk wedhus gembel. Katanya, setiap kali Merapi mau meletus ia selalu diingatkan makhluk gaib.

-

Bagaimana kisah Ponimin selama ini? Berikut wawancara Tempo dengan Ponimin di rumah pengungsiannya, Jumat (29/10/2010) :
-
Tanya: Anda bersediakah menerima tawaran Keraton untuk menggantikan Mbah Maridjan?
Jawab: Sampai saat ini saya belum bisa menjawab. Pada minggu-minggu ini keinginan saya adalah bagaimana bisa membuat gubug (rumah) untuk bisa ditinggali bersama keluarga. Saya akan salat istikharah dulu. Jika Allah mengizinkan, saya bersedia
. Namun, itu juga tergantung isteri saya. Jika isteri saya mengizinkan, saya bersedia. Sebaliknya, jika isteri saya melarang, saya tidak akan mau menerima tanggung jawab itu.
-

Tanya: Sejak kapan sih anda menjadi Abdi Dalem?
Jawab: Sejak 2001. Saya mendapat gelar Suraksa Ponihardja dengan pangkat jajar (pangkat terendah). Sebelumnya, belum pernah ada keluarga saya yang menjadi Abdi Dalem. Karena ada konflik, pada 2006 saya keluar
.
-

Tanya: Sebenarnya tugas utama sebagai juru kunci Merapi itu apa?
Jawab: Ya menjaga Merapi. Selain itu, juga melaksanakan perintah keraton. Maksudnya, melaksanakan kewajiban untuk melakukan upacara-upacara adat di Gunung Merapi setiap tahunnya
sesuai perintah keraton.
-

Tanya: Pengalaman anda pada waktu Merapi meletus tahun-tahun sebelumnya bagaimana?
Jawab: Mulai letusan Merapi tahun 1997 sampai letusan tahun 2006, saya biasanya selalu diingatkan oleh makhluk gaib. Makhluk itu biasanya selalu memberi petunjuk. Jika ingin selamat dari amukan Merapi harus membuat syarat tertentu. Misalnya menggantungkan kupat luwar yang dilengkapi rajah Arab dan uang logam Rp 100 bergambar gunung dan kemudian digantung di pintu atau ruangan di dalam rumah. Seminggu sebelum Merapi meletus Selasa (26/10/2010), saya juga ditemui makhluk gaib yang mengatakan butuh rabuk (pupuk) manusia dalam jumlah banyak
.
-

Tanya: Siapa makhluk itu?
Jawab: Saya tidak perlu sebut namanya. Yang jelas, selalu ganti-ganti
.
-

Tanya: Lalu, bagaimana anda dan keluarga bisa selamat?
Jawab: Sekitar pukul 17.00 saya sedang duduk bersama isteri di ruang tengah. Ada urusan bisnis gergajian kayu yang harus diselesaikan. Saya menyerahkan uang Rp 15 juta kepada isteri saya untuk membayar utang bisnis gergajian kayu. Sisanya, Rp 10 juta, baru mau saya masukkan ke tas. Tapi tiba-tiba terdengar suara sirine. Saya pergi ke kebun untuk mencari daun awar-awar dan daun dadap serep. Dua jenis daun ini biasa saya gunakan untuk syarat meminta selamat
.
-

Sementara isteri saya justru ke halaman, duduk dan membaca ayat suci Al Quran. Saat saya kembali dari kebun, isteri saya sudah lari masuk rumah. Saya dan anak-anak juga lari masuk rumah bersamaan dengan datangnya awan panas. Kami berlindung di balik rukuh (mukena) isteri saya. Udara di sekeliling saya panas. Genting rumah beterbangan. Kaca-laca jendela pecah berantakan.
-

Saya minta tolong lewat telepon, namun tak ada yang mau menolong. Bahkan ada yang menjawab, “Sudahlah, pasrah saja.” Saya lalu kelepasan mengumpat. Makanya kaki saya melepuh terkena awan panas. Setelah awan panas reda, kami berusaha keluar rumah. Mobil di halaman ternyata masih utuh. Padahal 3 motor di dekatnya luluh. Kami bermaksud pergi dari rumah dengan mobil. Namun baru beberapa saat jalan, ban mobil meleleh karena panas.
-

Kami kembali masuk rumah. Kami kemudian mengumpulkan bantal dan sajadah. Ada 7 bantal dan 1 sajadah. Benda-benda itulah yang kemudian kami gunakan sebagai jembatan estafet keluar dari rumah, menjauh dari bekas-bekas awan panas. Setelah berjalan estafet cukup jauh, tiba-tiba ada Pak Tris (tetangganya) yang kemudian menolong kami. Kami dibawa ke rumah sakit Panti Nugroho.
-

Tanya: Apakah Merapi masih akan meletus lagi?
Jawab: Saya
tidak berani meramalkan. Yang jelas, dalam minggu-minggu ini masih sangat rawan. Saya sedih. (Sumber: Tempointeraktif).

-

-

Sumber foto: inilah.com/Wirasatria

FOTO RUKUH (MUKENA) YANG SELAMATKAN PONIMIN.


sumber : http://iwandahnial.wordpress.com/2010/10/30/ponimin-diusulkan-jadi-juru-kunci-merapi-yang-baru/

PONIMIN DIUSULKAN JADI JURU KUNCI MERAPI YANG BARU

PONIMIN DIUSULKAN JADI JURU KUNCI MERAPI YANG BARU

-

Ponimin, kandidat pengganti Mbah Maridjan mengatakan, apa yang dikeluarkan oleh gunung Merapi saat ini belum apa-apa. Menurutnya, puncak muntahan wedhus gembel akan terjadi pada 5-6 hari ke depan. “Tunggu sampai 5-6 hari ke depan,” kata Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010). (Sumber: Detiknews).

-

SLEMAN, KOMPAS.com Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, mulai menjajaki sosok yang bisa menggantikan almarhum Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi.

-

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Kamis (28 Okober 2010), menemui Ponimin dan meminta agar salah satu tokoh masyarakat di Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, ini bersedia menggantikan Mbah Maridjan yang meninggal dunia terkena awan panas letusan Gunung Merapi.

-

Ponimin yang juga terluka akibat awan panas Gunung Merapi tersebut ditemui GKR Hemas di rumah kerabatnya di Dusun Ngenthak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

-

Dalam kesempatan tersebut, GKR Hemas juga sempat menyampaikan permintaan agar Ponimin bersedia menjadi juru kunci Gunung Merapi. “Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata GKR Hemas.

-

Sebagai informasi, Ponimin yang selama ini tinggal di sisi selatan kawasan wisata Lava Tour Kaliadem, Kepuharjo, tersebut selama ini bekerja sebagai Kepala Urusan Keuangan Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, itu tidak langsung menyanggupi permintaan GKR Hemas.

-

Kula dereng saged matur sakpunika (saya belum bisa menjawab saat ini),” kata Ponimin.

-

Mendapat jawaban tersebut, GKR Hemas menyatakan tidak masalah dan hal itu akan dibicarakan lebih lanjut.

-

Yo wis, kuwi dirembug mengko (ya sudah, nanti dibicarakan lain waktu),” kata GKR Hemas.

GKR Hemas mengunjungi Ponimin hampir selama satu jam dan ingin mendengar langsung kisah Ponimin dan keluarganya yang berhasil selamat dari amukan awan panas saat Merapi meletus, Selasa (26/10/2010) sore.

-

Ponimin yang oleh warga sekitar juga sering dimintai tolong mengenai masalah spiritual tersebut bersama istri dan anak-anaknya selamat dari terjangan awan panas Merapi.

-

Ponimin yang mengalami luka bakar di kedua kaki tersebut sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, hingga Selasa malam. Namun, keesokan harinya ia bersama keluarga memilih mengungsi di rumah dokter Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, hingga saat ini.

-

Di depan GKR Hemas, Ponimin mengaku mendapat informasi secara gaib tentang letusan Merapi.

-

Menurut Ponimin, makhluk gaib itu bahkan memberi tahu bahwa awan panas akan menerjang rumah Mbah Maridjan. Ponimin juga mengatakan, Merapi masih akan meletus lagi !

-

Yo wis, nek ana apa-apa, matur wae ke Keraton yo (ya sudah, kalau ada apa-apa, segera lapor ke Keraton),“ kata GKR Hemas yang dijawab Ponimin dengan anggukan kepala. Ponimin juga abdi dalem dengan gelar Surakso Ponihardja, pangkat paling rendah di jajaran abdi dalem Keraton Yogyakarta.

-

Ponimin pada 2006 menyatakan mundur sebagai abdi dalem karena kecewa dengan Keraton dan berseberangan pandangan dengan Mbah Maridjan.

-

Ponimin merasa kecewa terhadap Mbah Maridjan yang memutuskan bersedia dikontrak sebagai bintang iklan perusahaan jamu terkenal. (Sumber: Kompas.com).

-

Permaisuri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas

-

-

PONIMIN SELALU DIINGATKAN OLEH MAKHLUK GAIB !

-

Sumber Foto: TRIBUNNEWS/FEBBY MAHENDRA PUTRA

Ponimin, tokoh masyarakat Kaliadem, Sleman, hanya mengalami luka bakar di kaki saat disambar awan panas Gunung Merapi, Selasa (26/10/2010) lalu.

-

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Nama Ponimin tiba-tiba kondang. Ia dan keluarganya selamat dari muntahan awan panas alias wedhus gembel yang menghajar Dusun Kinahrejo. Letaknya tak begitu jauh dengan rumah Mbah Maridjan yang ditemukan tewas dihajar wedhus gembel.
-

Tak hanya itu, 2 hari setelah peristiwa itu saat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, istri Sultan Hamengkubuwono X menengoknya di rumah pengungsiannya di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang, ia diminta untuk menjaga Gunung Merapi.
-
“Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata Hemas saat itu. Ponimin tak langsung menyanggupinya.
-

Tiga kali Merapi meletus, ia selalu selamat dari amuk wedhus gembel. Katanya, setiap kali Merapi mau meletus ia selalu diingatkan makhluk gaib.

-

Bagaimana kisah Ponimin selama ini? Berikut wawancara Tempo dengan Ponimin di rumah pengungsiannya, Jumat (29/10/2010) :
-
Tanya: Anda bersediakah menerima tawaran Keraton untuk menggantikan Mbah Maridjan?
Jawab: Sampai saat ini saya belum bisa menjawab. Pada minggu-minggu ini keinginan saya adalah bagaimana bisa membuat gubug (rumah) untuk bisa ditinggali bersama keluarga. Saya akan salat istikharah dulu. Jika Allah mengizinkan, saya bersedia
. Namun, itu juga tergantung isteri saya. Jika isteri saya mengizinkan, saya bersedia. Sebaliknya, jika isteri saya melarang, saya tidak akan mau menerima tanggung jawab itu.
-

Tanya: Sejak kapan sih anda menjadi Abdi Dalem?
Jawab: Sejak 2001. Saya mendapat gelar Suraksa Ponihardja dengan pangkat jajar (pangkat terendah). Sebelumnya, belum pernah ada keluarga saya yang menjadi Abdi Dalem. Karena ada konflik, pada 2006 saya keluar
.
-

Tanya: Sebenarnya tugas utama sebagai juru kunci Merapi itu apa?
Jawab: Ya menjaga Merapi. Selain itu, juga melaksanakan perintah keraton. Maksudnya, melaksanakan kewajiban untuk melakukan upacara-upacara adat di Gunung Merapi setiap tahunnya
sesuai perintah keraton.
-

Tanya: Pengalaman anda pada waktu Merapi meletus tahun-tahun sebelumnya bagaimana?
Jawab: Mulai letusan Merapi tahun 1997 sampai letusan tahun 2006, saya biasanya selalu diingatkan oleh makhluk gaib. Makhluk itu biasanya selalu memberi petunjuk. Jika ingin selamat dari amukan Merapi harus membuat syarat tertentu. Misalnya menggantungkan kupat luwar yang dilengkapi rajah Arab dan uang logam Rp 100 bergambar gunung dan kemudian digantung di pintu atau ruangan di dalam rumah. Seminggu sebelum Merapi meletus Selasa (26/10/2010), saya juga ditemui makhluk gaib yang mengatakan butuh rabuk (pupuk) manusia dalam jumlah banyak
.
-

Tanya: Siapa makhluk itu?
Jawab: Saya tidak perlu sebut namanya. Yang jelas, selalu ganti-ganti
.
-

Tanya: Lalu, bagaimana anda dan keluarga bisa selamat?
Jawab: Sekitar pukul 17.00 saya sedang duduk bersama isteri di ruang tengah. Ada urusan bisnis gergajian kayu yang harus diselesaikan. Saya menyerahkan uang Rp 15 juta kepada isteri saya untuk membayar utang bisnis gergajian kayu. Sisanya, Rp 10 juta, baru mau saya masukkan ke tas. Tapi tiba-tiba terdengar suara sirine. Saya pergi ke kebun untuk mencari daun awar-awar dan daun dadap serep. Dua jenis daun ini biasa saya gunakan untuk syarat meminta selamat
.
-

Sementara isteri saya justru ke halaman, duduk dan membaca ayat suci Al Quran. Saat saya kembali dari kebun, isteri saya sudah lari masuk rumah. Saya dan anak-anak juga lari masuk rumah bersamaan dengan datangnya awan panas. Kami berlindung di balik rukuh (mukena) isteri saya. Udara di sekeliling saya panas. Genting rumah beterbangan. Kaca-laca jendela pecah berantakan.
-

Saya minta tolong lewat telepon, namun tak ada yang mau menolong. Bahkan ada yang menjawab, “Sudahlah, pasrah saja.” Saya lalu kelepasan mengumpat. Makanya kaki saya melepuh terkena awan panas. Setelah awan panas reda, kami berusaha keluar rumah. Mobil di halaman ternyata masih utuh. Padahal 3 motor di dekatnya luluh. Kami bermaksud pergi dari rumah dengan mobil. Namun baru beberapa saat jalan, ban mobil meleleh karena panas.
-

Kami kembali masuk rumah. Kami kemudian mengumpulkan bantal dan sajadah. Ada 7 bantal dan 1 sajadah. Benda-benda itulah yang kemudian kami gunakan sebagai jembatan estafet keluar dari rumah, menjauh dari bekas-bekas awan panas. Setelah berjalan estafet cukup jauh, tiba-tiba ada Pak Tris (tetangganya) yang kemudian menolong kami. Kami dibawa ke rumah sakit Panti Nugroho.
-

Tanya: Apakah Merapi masih akan meletus lagi?
Jawab: Saya
tidak berani meramalkan. Yang jelas, dalam minggu-minggu ini masih sangat rawan. Saya sedih. (Sumber: Tempointeraktif).

-

-

Sumber foto: inilah.com/Wirasatria

FOTO RUKUH (MUKENA) YANG SELAMATKAN PONIMIN.


sumber : http://iwandahnial.wordpress.com/2010/10/30/ponimin-diusulkan-jadi-juru-kunci-merapi-yang-baru/

Blog Archive

Bagaimanakah pendapat Anda tentang Blog saya?

Terima kasih kepada teman teman dan rekan rekan